Truth Or Dare (Chapter 3)
Yoona
Siwon
Sooyoung
Dan pemain lain sesuai jalan cerita^^
WARNING!!!
Typo(s)
DON’T LIKE DON’T READ, ok?
Summary:
Truth or dare? Itu adalah sebuah permainan. Kalau kau memilih truth, itu artinya kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi jika kau memilih dare, kau harus mengikuti segala perintahku / Yoona, Siwon, Sooyoung. Dan pemain lain sesuai jalan cerita^^
Note:
Judul sama Summary nggak nyambung sama cerita. Abis nggak jago bikin Summary sama Title. Wkwk.
.
Let’s Read!!
.
.
.
-Siwon
POV-
“Iya
bukan vitamin biasa yang ia butuhkan, tapi ia juga membutuhkan obat anemia.
Sepertinya ia mengidap penyakit anemia.” Ucap Sungjong uisa yang tadi sempat
membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Jujur saja aku sangat takut Yoona
terkena penyakit. Sekalipun penyakit yang tak begitu parah. Aku menyayanginya.
“Baiklah
uisanim, nanti aku akan membelikan obat tersebut… Gamsahamnida, uisa…” ucapku
sampai akhirnya aku menutup pembicaraan dengan Sungjong uisanim.
Aku
kembali berjalan menuju kamar Yoona. “Siwon? Sedang apa kau kesini? Kau tidak sekolah?”
tanya Yoona padaku dengan suara yang lemas. Wajahnya pucat pasi. Ah, aku begitu
khawatir dengan keadaannya.
“Hah…”
hembusan nafasku. “Tadi saat aku menjemputmu, tak ada jawaban darimu. Maaf
kalau aku lancang, tadi aku masuk dengan kunci cadangan yang kau berikan. Lalu
aku melihatmu jatuh tergeletak di bawah. Akhirnya akupun membawamu ke atas
ranjang ini. Hm, tadi aku sudah menelpon uisanim. Kau harus banyak istirahat,
Yoona… Jangan terlalu lelah.” Ucapku panjang lebar.
“Begitu?”
responnya singkat. Ya, sangat amat singkat.
Aku
memang merasa kesal padanya, tapi kalau disaat seperti ini aku jadi tidak yakin
untuk memaki-makinya. “Sudahlah, sekarang kau sarapan dulu saja. Maaf aku hanya
dapat memasak ramyun..” ucapku sembari membawa ramyun yang tadi aku masak. Untung
saja ramyun itu belum dingin.
Terhias
segaris senyum pada mulut Yoona. Senyuman itu yang membuat jantungku kembali
berdebar. Siwon, jangan. Tolong. Kau tak boleh menyukainya. Dia adalah
sahabatmu, Siwon. Tolong. Aku menundukkan kepalaku dan ikut tersenyum. Aku Cuma
takut Yoona merasa kalau jantungku sedari tadi berdebar-debar. “Gomawo,
Siwon-ya…” ucapnya ketika menerima ramyun yang ku berikan.
“Habiskan,
mian kalau tidak enak. Kau tahu kan kalau aku tidak jago memasak?” ucapku ketika
berani kembali menatap matanya.
-Siwon
POV end-
***
-Yoona
POV-
Hah….
Sudah dua minggu aku rutin mengucapkan selamat pagi pada Siwon. Oh iya,
semenjak aku jatuh pingsan dan Siwon melihatnya, ia jadi semakin perhatian
denganku. Dan oh iya, semenjak hari itu
kepalaku jadi sering merasa pusing. Siwon berkata padaku kalau aku terkena
anemia. Ya, semoga saja hanya sekedar anemia.
Malam ini
aku sedang mengerjakan tugas yang
diberikan oleh Jonghyun seonsaengnim. Hah, meskipun tidak harus dikumpulkan
besok, tapi kalau aku tidak cepat-cepat mengerjakannya itu akan membuat tugasku
semakin menumpuk.
Aku
berdiri meninggalkan laptop menuju dapur untuk membuat kopi. Aku melihat jam
dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hah, aku merasa lelah
sekali.
Drrtt… drrt… drrt… handphoneku bergetar. Dengan segera aku
mengangkat handphoneku setelah aku tahu bahwa Sooyoung yang menelponku. “Halo?”
“Halo
Yoona, kau belum tidur?” tanyanya dengan suaranya yang terdengar seperti
mengkhawatirkanku.
“Belum,
aku masih mengerjakan tugas dari Jonghyun seonsaengnim. Kau juga belum tidur?” tanyaku
padanya.
“Hm,
belum. Yoona, apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi.
Ia
menanyakan kabarku? Memangnya aku kenapa? “Tentu saja Soo, memangnya kenapa?”
“Bukankah
tadi kau cerita padaku kalau kau merasa sangat pusing? Dan saat ini suaramu
terdengar lemas. Sepertinya kau harus berkonsultasi dengan uisa besok, Yoong..”
ucap Sooyoung. Ya, memang ia cukup cerewet. Bahkan aku sempat menganggapnya
sama seperti eommaku.
Tapi
benar juga. Sepertinya aku memang harus berkonsultasi dengan uisa. “Yoona, kau
masih disana kan?” tanya Sooyoung lagi ketika tak ada jawaban dariku.
“Ah, ne…
Aku disini. Baiklah, besok aku akan berkonsultasi dengan uisa.”
“Apa
perlu aku temani?”
“Tidak.”
“Baiklah
kalau begitu kau jangan tidur terlalu malam..”
“Ya.”
Kadang
aku merasa heran. Setiap hari aku harus mengerjakan tugas dengan susah payah,
tapi mengapa Sooyoung begitu santainya mendapat tugas. Ia tak pernah tidur
malam. Ah ne, aku ingat. Dia adalah gadis yang pintar, cerdas, dan rajin,
sempurna.
Setelah
Sooyoung menutup pembicaraan denganku, aku kembali merasa pusing. Kali ini
pusing yang amat luar biasa. Sepertinya aku memang butuh istirahat. Aku
memutuskan untuk mematikan laptop ku dan tidur.
***
Bell
pulang sekolah baru saja berbunyi. “Siwon, hari ini aku tidak pulang bersamamu,
tak apa?” tanyaku saat Siwon menjemputku di depan kelas.
Siwon
mengerutkan dahinya. “Memangnya kenapa? Kau akan mengerjakan tugas di
perpustakaan lagi? Aku akan menunggunya..”
“Bukan,
bukan itu… Aku sedang ada urusan di luar sekolah.” Ucapku. Aku tak mau pergi ke
rumah sakit dan membuat Siwon jadi khawatir.
Kerutan
dahi Siwon semakin tebal. “Urusan di luar sekolah? Mengapa aku tidak tahu?”
“Hm… Iya,
aku… sedang ada urusan keluarga. Ya, urusan keluarga. Eeer, aku akan bertemu
ahjumma-ku.” Jujur saja, aku tidak dapat berkata bohong pada Siwon. Saat aku
berbohong padanya, aku selalu terlihat gugup.
Kalau
masalah keluarga, Siwon kadang tidak dapat membantah. Aku yakin ia masih tidak
percaya dengan alasanku. Namun akhirnya kerutan di dahinya itu hilang. Dan ia
menarik nafasnya. “Baiklah, kalau begitu. Hati-hati ya, nanti kalau ada
apa-apa, telpon saja aku. Kalau kau meminta jemput, katakan saja padaku, ne?”
Terulas
segaris senyum di mulutku. “Baiklah, gomawo Siwon! Hati-hati yaaa!” ucapku saat
kami berpisah di depan gerbang sekolah. Ya, itu karena Siwon yang pulang dengan
jalan kaki, dan aku yang menunggu taxi untuk menuju rumah sakit.
***
Aku berjalan
menuju depan tempat duduk sang uisa. Uisa tersebut menghembuskan nafasnya
dengan berat. “Bagaimana uisanim?” tanyaku saat aku sudah duduk di hadapannya.
Barusan sang uisa melihat keadaan tubuhku.
Uisa
tersebut kembali menghembuskan nafas. “Gejala apa saja yang kau alami,
Yoona-sshi?” tanya uisa tersebut dengan wajahnya yang serius. Gejala? Memangnya
aku sakit apa?
“Aku
sering merasa pusing yang luar biasa. Beberapa hari yang lalu aku mengalami
pingsan. Saat terdapat uisanim yang memeriksaku, ia hanya berkata kalau aku
kelelahan. Sebenarnya aku sakit apa, uisanim?” tanyaku yang mulai panik melihat
raut wajah uisanim yang bernama Park Jungsoo ini.
Jungsoo
uisa menggelengkan kepalanya. “Kau sedang tidak baik-baik saja.” Ucapnya dengan
wajah yang ia buat setenang mungkin.
“Tidak
baik-baik saja? Memangnya aku sakit apa, uisa?”
“Kau….
Mengidap penyakit kanker otak.” Perkataan Leeteuk uisa membuatku diam membeku.
Separah itu kah? Apa Leeteuk uisa salah?
Pandanganku
saat ini kosong. “Kanker otak?” gumamku dengan suara yang tipis. Hampir tak
terdengar. “Separah itu kah?”
Leeteuk
uisa mengangguk pelan. “Tapi saya akan berusaha sekuat saya untuk dapat
menyembuhkanmu. Penyakitmu belum terlalu parah. Jadi kau tak harus dirawat. Kau
masih bisa sekolah..”
Belum
terlalu parah? Tapi bagaimanapun juga penyakit kanker otak adalah penyakit yang
serius. Aku jadi merasa tak punya tujuan hidup. Buat apa aku sekolah dan makan?
Toh sebentar lagi akupun akan mati.
***
Aku
pulang dari rumah sakit dengan keadaan tidak baik-baik saja. Pandanganku
kosong. Apa mungkin Leeteuk uisanim salah? Tapi bagaimana mungkin? Seoul
Hospital adalah rumah sakit yang terkenal. Mana mungkin hasil yang ia berikan
salah?
Aku
memijat pelipisku. Lalu aku mengusap mukaku. Mengapa takdirku seperti ini? Apa
aku harus mengatakan pada keluargaku di Busan? Apa aku harus mengatakan ini
semua pada Sooyoung dan Siwon? Apa mereka harus tau?
Setelah
berfikir banyak, aku memutuskan untuk berjalan menuju rumah Sooyoung. Aku
mengetuk pintu rumahnya. Aku harus mengatakan padanya. Bagaimanapun juga aku
juga tak bisa menyimpan berita ini sendirian. “Sooyoung….” Teriakku dengan
lemah, bahkan hampir tak terdengar.
“Yoona? Mengapa
wajahmu pucat sekali? Cepatlah masuk!” ucapnya dengan sedikit menarik tanganku
untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumah
Sooyoung terlihat sangat sepi. Tak seperti biasanya. Aku dibiarkan duduk di
ruang keluarga rumahnya ini. “Mengapa wajahmu pucat? Apa kau sakit? Matamu
bengkak. Kau habis menangis?”
“Aku….
Aku….” Aku tak bisa mengatakan semuanya. Aku terlalu takut Sooyoung khawatir akan
keadaanku. Tapi kalau mengingat ucapan Leeteuk uisa, mataku jadi kembali panas.
Aku sangat ingin menahan air mataku ini. Tapi ternyata tidak bisa.
“Yoona?
Kau menangis? Kau kenapa? Katakan padaku!” tanya Sooyoung ketika ia melihat air
mataku mengalir. Sooyoung memelukku dan mengusap rambutku pelan. “Ceritakan
padaku Yoona..”
Aku tak
punya tenaga untuk menceritakan semuanya pada Sooyoung. “Aku…. Akan mati.” Ucapku
akhirnya. Hanya itu yang dapat ku katakan saat ini.
Sooyoung
berhenti mengusap rambutku. “Apa maksudmu? Kau tak boleh berkata seperti itu!” ucapnya
tegas.
“Uisa
mengatakan aku mengidap penyakit kanker otak. Bukankah aku akan mati?” ucapku
akhirnya.
Sooyoung
terdiam. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan. Sampai akhirnya aku merasa tanganku
basah tertetes air. Aku melihat wajah Sooyoung, dia menangis? Ah, aku bodoh
telah membuatnya menangis sedih seperti ini. “Sooyoung?”
Dengan
segera Sooyoung menghapus air matanya. “Kau akan tetap hidup. Menemaniku.”
Ucapnya sebelum akhirnya ia menangis di pelukanku lagi.
-Yoona
POV end-
0 Comment