­

Truth Or Dare (Chapter 2)


Sebenernya ini FF permintaannya temen aku, Joo Unni. Nih ff spesial buat kau un!
Cast:
Yoona
Siwon
Sooyoung
Dan pemain lain sesuai jalan cerita^^

WARNING!!!
Typo(s)
DON’T LIKE DON’T READ, ok?
Summary:
Truth or dare? Itu adalah sebuah permainan. Kalau kau memilih truth, itu artinya kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi jika kau memilih dare, kau harus mengikuti segala perintahku / Yoona, Siwon, Sooyoung. Dan pemain lain sesuai jalan cerita^^
Note:
Judul sama Summary nggak nyambung sama cerita. Abis nggak jago bikin Summary sama Title. Wkwk.
.
Let’s Read!!


.
.
.

-Yoona POV-
“Hallo!!” ucapku saat Siwon mulai menjawab telpon dariku.
“Hallo Yoong, kau baik-baik saja? Suaramu terdengar sangat lemas…” ujar Siwon saat ia menjawab sapaanku.
“Baik. Good morning Siwon, jangan lupa mandi dan sarapan ya!”
“Apa kau yakin? Istirahat lah dulu, masih ada waktu. Kira-kira dua jam lagi aku menjemputmu. Ah, terimakasih Yoong, aku menyayangimu!”
“Aku tidak.” Dan aku langsung menutup pembicaraanku dengan Siwon. Siwon memang kadang sering berlebihan. Dan aku sudah memahaminya.
Satu minggu sudah aku rutin mengucapkan good morning untuk Siwon. Ku fikir ia akan bosan dan menyuruhku untuk tidak menelponnya lagi, ternyata ia malah senang setiap paginya aku telpon. Anak itu benar-benar.
Ah iya, sampai saat ini aku belum memikirkan sama sekali tentang tantangan yang akan ku berikan pada Siwon. Hm, aku bingung, jujur saja aku tak tega memberi tantangan yang berat padanya. Tapi bagaimanapun juga aku harus memberi tantangan padanya.
Kalau aku menyuruhnya untuk mengucapkan good morning setiap pagi sama seperti tantangannya, itu hanya membuat tidurku jadi terganggu. Hm, apa ya tantangan yang pas untuknya?
“Arghh….” Tiba-tiba aku merasa sangat pusing pada bagian kepalaku. Pandanganku mulai terlihat buram. Aku merasa kalau kepala ini dipukul oleh beribu-ribu palu. Rasanya pusing.
Lalu setelah itu aku tak merasakan apapun terjadi. Hal yang terakhir aku lihat adalah langit-langit kamarku.
-Yoona POV end-
-Siwon POV-
“Yoong!!! Yoona!!! Yoonaaa!!!” teriakku di depan rumah kecil Yoona. Yap, Yoona tinggal sendirian di rumah ini. Bagiku ia adalah gadis yang sangat dewasa. Orang tua Yoona tinggal di Busan. Sedangkan Yoona sendiri tinggal di Seoul hanya karena ia ingin mendapatkan pendidikan yang lebih bagus. Ya, menurutku itu keputusan yang benar.
Oh iya, jujur saja, sejak tadi malam aku mempunyai pikiran yang tidak enak. Aku selalu menunggu telepon dari Yoona. Bahkan sampai-sampai tidurku tadi malam tidak nyenyak. Aku merasakan sesuatu yang ganjal. “Apa Yoona baik-baik saja?” gumamku yang hampir tak terdengar.
Sudah kira-kira sepuluh menit aku ada di depan rumah Yoona. Namun tak ada jawaban apapun darinya. Apa mungkin ia belum bangun? Yah, ini memang salahku, aku menjemputnya terlalu cepat. Tapi masa mungkin ia belum bangun dari tidurnya? Apa lebih baik aku masuk ke dalam rumahnya saja? Kebetulan aku punya kunci cadangan rumahnya ini. Ya, lebih baik aku masuk ke dalam rumahnya saja.
Aku melihat seluruh sudut rumah ini. Terasa sepi. Kemana Yoona? Lebih baik aku menelponnya saja. Nada sambung berbunyi.
Uriga mannage doen narul chugboghanun ee bamun, hanulen dari pyo-igo byuldurun misojijyo. Gudeui misoga jiwojiji anhgil baleyo, onjena haengbokhan nalduri gyesog doegil bilmyo. Aku mendengar suara ringtone handphone Yoona. Ya, aku hafal dengan ringtone-nya. Aku berjalan mendekati sumber bunyi tersebut. “YOONA?!” ucapku dengan volume yang cukup keras.
Aku melihat tubuhnya tengah terbaring di samping ranjang tempat tidurnya dan disampingnya terdapat handphonenya yang masih bergetar. Aku baru sadar kalau handphoneku masih mengubunginya, dengan segera aku mematikan nada sambungku.
Aku menggendongnya dan membawanya ke ranjang tidur. Aku mencoba menelpon uisa langgananku.
***
“Apa gejala yang ia rasakan?” ucap seorang uisa setelah ia memeriksa Yoona yang masih belum sadarkan diri.
Aku menggeleng. “Entahlah uisanim, Yoona tak pernah ceritakan apapun padaku. Tadi pagi aku melihatnya sudah tergeletak di samping tempat tidurnya. Memangnya ia kenapa dok?” tanyaku pada uisa. Jujur saja aku sangat cemas pada Yoona. Akhir-akhir ini kondisinya memang terlihat tidak sehat. Ia sering terlihat lemas dan letih. Aku tak tau dia kenapa.
“Saya belum yakin dengan penyakitnya kalau tidak ada gejala-gejala yang Yoona beritahukan pada saya. Sejauh yang saya tahu, kemungkinan ia hanya kelelahan.” Ucap uisa itu. Terlihat sekali kharismanya itu.
Ya, memang akhir-akhir ini Yoona terlihat sangat sibuk dengan tugas-tugas di sekolahnya. Yoona sering menyuruhku untuk pulang lebih dulu karena ia harus menyelesaikan tugasnya di perpustakaan sekolah. Namun karena aku adalah teman yang baik, akupun menunggu dan membantu tugasnya itu agar selesai. Aku kan bukan orang yang terlalu bodoh dalam pelajaran.
“Baiklah uisanim, gamsahamnida sudah membantu teman saya..” ucapku seraya sedikit membungkukkan tubuhku saat sang uisa hendak pergi meninggalkan rumah ini.
“Ne, cheonma Siwon-sshi. Ini memang tugas saya sebagai uisa,” Jawabnya dengan membungkukkan badannya juga. “Apa kau tidak sekolah?” tanyanya saat melihatku menggunakan seragam namun tidak berangkat ke sekolah.
“Sepertinya tidak dok, aku akan menjaga Yoona sampai ia sadar..”
“Kau memang teman yang setia. Baiklah kalau begitu tolong ingatkan pada Yoona agar tidak lupa membeli dan meminum vitamin yang tadi saya berikan resepnya, ne?” ucap sang uisa lagi sebelum akhirnya ia berjabat tangan denganku dan meninggalkan rumah Yoona.
“Baiklah uisa, sekali lagi gamsahamnida ne..”
“Cheonma Siwon-sshi.. Saya pamit pulang dulu ne.”
Setelah uisa meninggalkan rumah Yoona, aku memutuskan untuk menunggu Yoona sampai sadar dari pingsannya itu. Sembari menunggu, aku memutuskan untuk menelpon Sooyoung, sahabat Yoona di kelasnya.
“Hallo.” Sapanya.
“Hallo, Sooyoung?”
“Ne benar, ada apa, Siwon? Eh, Yoona tidak masuk sekolah?” pertanyaan itu yang pertama kali terlontarkan dari mulut Sooyoung.
“Maka dari itu aku menelponmu, soo… Tadi Yoona pingsan saat aku menjemputnya. Aku sudah berkonsultasi pada uisa. Dan sampai saat ini ia belum sadarkan diri. Jadi sepertinya hari ini Yoona dan aku tidak masuk. Apa aku bisa meminta tolong kau untuk mengabari pada seonsaengnim?”
“Ah, sakit apa dia? Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya pada seon. Tolong jaga Yoona ya Won… Nanti saat pulang sekolah aku akan menjenguknya.”
“Dia hanya kelelahan, Soo.. Tak usah khawatir. Baiklah, gomawo ne,”
“Ne, cheonma. Baiklah bell sudah berbunyi, sampai bertemu nanti!”
“Ne..” ucap terakhirku sampai akhirnya aku menutup pembicaraan dengan Sooyoung.
Karena aku merasakan suntuk yang luar biasa, akhirnya aku memutuskan untuk membuat sarapan untuk Yoona dan aku. Aku sangat merasa lapar sekali.
Memang aku tidak terlalu jago dalam hal memasak. Namun aku juga tidak sebodoh itu yang tidak dapat memasak ramyun.
“Tadaaa! Ramyun buatan Siwon-sshi… Hmmm, enaknya…” ucapku saat ramyun tersebut matang.
Aku segera memasuki kamar Yoona. Aku masih melihatnya tidur lemas disana. Wajahnya tampak pucat pasi. Ah, aku sungguh tak tega saat melihatnya seperti ini. Aku tidak yakin kalau ia hanya kelelahan. Tidak. Bukannya aku berharap yang tidak-tidak. Namun aku merasa seperti ada yang mengganjal.
Akhir-akhir ini pun ia sering mengeluh pusing padaku. Apa dia terkena penyakit yang parah? Ah tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Yoona akan baik-baik saja.
Saat aku duduk di samping ranjang tempat tidur Yoona, handphoneku berbunyi. Sehingga membuatku untuk pergi ke luar kamar Yoona. “Hallo?”
“Hallo, Siwon-sshi?”
“Apa ini Sungjong uisanim?”
“Ne, Siwon-sshi… Maaf sebelumnya, resep obat yang tadi saya catatkan itu salah. Obat yang seharusnya bukan vitamin biasa..” ujar Sungjong uisanim.
Bukan vitamin biasa? Maksudnya? “Bukan vitamin biasa, memangnya Yoona sakit apa, uisanim?”  
“Iya, bukan vitamin biasa yang ia butuhkan, tapi…”
-Siwon POV end-


You May Also Like

0 Comment